Degradasi iman pernah dilansir sebagai tabiat asli manusia.
Benarkah demikian? Sejauh yang saya tahu memang benar karena saya juga
mengalaminya (bukannya berusaha untuk meninggikan diri, tapi pengalaman diri
sendiri jauh lebih mudah dijadikan analogi).
Bentuk futur ada banyak sekali. Disini saya batasi pada apa
yang sering terjadi pada saya.
1.
Berkurangnya amalan harian seperti sholat
rawatib, kuantitas bacaan Quran menurun, dan menunda-nunda wirid atau bacaan
al-ma’tsurat.
2.
Malas bangun malam atau mengurangi rokaat sholat
malam.
3.
Mulai sibuk dengan hal-hal yang mubah seperti
rencana menu makan, nonton film, banyak mendengarkan musik-musik barat, atau
bercanda berlebihan.
4.
Terlalu larut dengan masa lalu dan susah maju.
Faktor yang menyebabkan terjadinya futur menurut saya
terutama karena bisikan setan yang tak mampu lagi dibendung. Selain itu, faktor
internal juga turut mendukung hal tersebut seperti:
1.
Sendiri. Istiqomah tidaknya seseorang memang baru
terlihat saat dia sendiri. Terutama pada saat dia jauh dari teman-teman
seperjuangan.
2.
Tidak mampu menahan nafsu dan berlebihan dalam
hal yang mubah. Yang paling susah saya tahan adalah nafsu makan, apalagi
makanan manis.
3.
Sugesti ‘turun tanjakan memang jauh lebih mudah
daripada saat naiknya’.
4.
berada pada lingkungan yang “lemah” pada
saat-saat tertentu.
5.
Kurang menjaga diri dari hal yang subhat.
Solusi yang seharusnya bisa menanggulangi futur adalah
menjauhi dan meninggalkan faktor penyebabnya. Akan tetapi, kelemahan manusia
yang membuatnya terasa susah. Berikut ini mungkin bisa sedikit memecahkan
masalah futur meskipun saya rasa berhasil tidaknya kembali kepada tekad kita
sendiri.
1.
Mengenal kendala yang mengungkung. Saat sudah
berhasil, cari cara yang tepat untuk lambat laun meninggalkannya.
2.
Menghibur diri dengan hal yang mubah (tapi
jangan berlebihan), seperti bercengkrama dengan keluarga, piknik dengan teman,
atau refreshing dengan cara masing-masing.
3.
Banyak-banyak mengingat mati, neraka, dan surga.
4.
bagi
para pemuda yang belum menikah, caranya bisa dengan selalu mengingat surat An-Nuur ayat 26: “Wanita-wanita yang keji adalah
untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita
yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik
dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik”. Jika kita ingin
mendapatkan pasangan yang sholih/sholihah, buatlah diri kita menjadi
sholih/sholihah dulu.
5.
Lebih berhati-hati dan berusaha mencari tahu
asal rezeki yang berupa pemberian dari seseorang.