Pergaulan yang asli adalah pergaulan dari hati ke hati yang
penuh keikhlasan , yang insyaallah akan terasa indah dan menyenangkan.
Pergaulan yang penuh rekayasa dan tipu daya demi kepentingan yang bernilai
rendah tidak akan pernah langgeng dan cenderung menjadi masalah. Berikut ini
rumus 3A agar kita bisa bergaul dengan baik bersama hamba-hamba Allah yang
lainnya. Semoga bermanfaat:
1.Aku bukan ancaman bagimu
Kita tidak boleh menjadi seorang
yang merugikan orang lain, terlebih dahulu kita simak rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:
“Muslim yang terbaik adalah
muslim yang muslim lainnya selamat/merasa aman dari gangguan lisan dan
tangannya.” (H.R. Bukhari)
-Hindari penghinaan apapun yang bersifat
merendahkan, ejekan. Penghinaan dalam bentuk apapun terhadap seseorang, baik
tentang kepribadian, bentuk tubuh, dan sebagainya jangan pernah dilakukan
karena tak ada masalah yang selesai dengan penghinaan, yang ada adalah perasaan
sakit hati serta rasa dendam.
-Hindari ikut campur urusan pribadi. Hindari pula
ikut campur urusan pribadi seseorang yang tidak ada manfaatnya jika kita
terlibat. Seperti yang kita maklumi setiap orang punya urusan pribadi yang
sensitive, yang bila terusik niscaya akan menimbulkan keberangan.
-Hindari memotong pembicaraan. Sungguh dongkol
bila kita sedang berbicara kemudian tiba-tiba dipotong dan disangkal, berbeda
halnya bila uraian tuntas dan kemudian dikoreksi dengan cara yanga rif, niscaya
kita pun berkecenderungan menghargainya bahkan mungkin menerimanya. Maka
latihlah diri kita untuk bersabar dalam mendengar dan mengoreksi dengan cara
yang terbaik pada waktu yang tepat.
-Hindari membandingkan. Jangan pernah dengan
sengaja membandingkan jasa, kebaikan, penampilan, harta, kedudukan seseorang
sehingga yang mendengarnya merasa dirinya tidak berharga, rendah atau merasa
terhina.
-Jangan membela musuhnya, mencaci kawannya.
Membela musuh maka dianggap bergabung dengan musuhnya, begitu pula mencaci
kawanya berarti memusuhi dirinya. Bersikaplah yang netral, sepanjang diri kita
menginginkan kebaikan bagi semua pihak, dan sadar bahwa untuk berubah harus
siap menjalani proses dan tahapan.
-Hindari merusak kebahagiannya. Bila seseorang
sedang berbahagia, janganlah melakukan tindakan yang akan merusak kebahagiannya.
Misalkan ada seseorang yang merasa beruntung mendapatkan hadiah dari luar
negeri, padahal kita tahu persis bahwa barang tersebut buatan dalam negeri,
maka kita tak perlu menyampaikannya, biarlah dia berbahagia mendapat oleh-oleh
tersebut.
-Jangan mengungkit masa lalu. Apalagi jika yang
diungkit adalah kesalahan, aib atau kekurangan yang sedang berusaha ditutupi.
Ingatlah bahwa setiap orang memiliki kesalahan yang sangat ingin
disembunyikannya, termasuk dari kita. Maka jangan pernah usil untuk mengungkit
dan membeberkannya. Hal seperti ini sama dengan mengajak bermusuhan.
-Jangan mengambil haknya. Jangan pernah terpikir
untuk menikmati hak orang lain, setiap gangguan terhadap hak seseorang akan
menimbulkan rasa tidak suka dan perlawanan yang tentu akan merusak hubungan.
Sepatutnya kita harus belajar menikmati hak kita agar bermanfaat dan menjadi
bahan kebahagiaan orang lain.
-Hati-hati dengan kemarahan. Bila anda marah,
maka waspadalah karena kemarahan yang tak terkendali biasanya menghasilkan kata
dan perilaku yang keji yang sangat melukai, dan tentu perbuatan ini akan
menghancurkan hubungan baik di lingkungan manapun. Kita harus mulai berlatih
mengendalikan kemarahan sekuat tenaga dan tak usah sungkan untuk meminta maaf
andaikata ucapan dirasakan berlebihan.
-Jangan menertawakannya. Sebagian besar dari
sikap menertawakan seseorang adalah karena kekurangannya, baik sikap,
penampilan, bentuk rupa, ucapan dan lain sebagainya. Dan ingatlah bahwa tertawa
yang tidak pada tempatnya serta berlebihan akan mengundang rasa sakit hati.
-Hati-hati dengan penampilan, bau badan, dan bau
mulut. Tidak ada salahnya kita selalu mengontrol penampilan, bau badan dan bau
mulut kita karena penampilan atau bau badan yang tidak segar akan membuat orang
lain terusik kenyamanannya dan cenderung ingin menghindari kita.
Wah, ini lanjutannya menghilang entah kemana. Beginilah jika
tulisan dibiarkan terlalu lama mengendap dan tidak segera diselesaikan. Namun daripada
mubazir, saya nekat saja membagikannya dengan harapan bisa bermanfaat.
Kalau boleh berkomentar atas tulisan aa Gym di atas, yang
paling sering membuat saya terlena adalah menghindari merusak kebahagiaan orang
lain. Komentar yang awalnya diniati untuk bercanda bisa saja tanpa disadari
membuat orang lain terluka. Dan setelah itu tetap saja doa agar diri ini jangan
sampai menyakiti orang lain sering lupa diselipkan. Astaghfirullah…
Mengatasnamakan kesibukan untuk tidak melaksanakan janji mungkin suatu waktu akan terkesan menyelematkan, tapi apakah setelah itu perasaan menjadi tenang? Jika jawaban Saudara tidak, berarti kita sealiran.
Pernah suatu saat saya berjanji akan banyak menulis di blog ini. Dan kenyataannya jauh dari harapan.
Kalau setelah ini saya bertekad untuk sering menulis, apakah saya akan mencederai janji saya lagi? Sebenarnya pertanyaan semacam ini tidak perlu dan tidak seharusnya terucap. Karena frasa "setelah ini" masuk dalam dimensi waktu masa depan, jadi sebisa mungkin jangan sampai terkotori dengan keputusasaan, pesimistis, dan kecurigaan yg tidak berdasar. Bismillah, yakin bisa (mungkin dengan diiringi sedikit perbaikan niat agar diri ini terus bergerak dan hasilnya bisa bermanfaat)