Rabu, 25 Januari 2012

guarantee

Tiga hal: jodoh, rizki, dan mati. Semuanya sudah dijamin oleh Allah. Siapa yang tidak tahu? Tapi adakah tahu itu sudah naik tingkat menjadi mengerti?

Sebab kriteria mengerti disini seharusnya terlihat dari aplikasinya (meskipun dunia bicara tidak seterjal dunia langkah).

Terima kasih saya ucapkan untuk teman, saudara, sekaligus sahabat saya yang menyadarkan (atas seizin Allah) kelalaian saya.

Pernah suatu ketika dia membaca, tentunya dengan redaksi yang berbeda, status seseorang yang berbunyi ,"buat apa kita merisaukan hal yang sudah jelas-jelas dijamin oleh Allah (jodoh, rizki, mati-red), dan tidak akan mungkin akan tertukar. Yang lebih penting kita risaukan justru apakah amalan kita sudah benar sehingga Allah berkenan menerimanya, atau jangan-jangan dosa kita jauh lebih berat timbangannya. Sesuatu yang memang benar-benar layak untuk dirisaukan."

Kemudian yang saya pertanyakan adalah kalo memang sudah dijamin, berarti tanpa usaha pun akan datang pada kita donk. Namun pertanyaan saya terbantahkan dengan jawaban teman saya ini,"namanya dijamin tetap saja kita sendiri yang menentukan cara seperti apa yang kita pilih untuk menjemputnya."

Akhirnya sempurna saya terdiam dan hati saya mengamini kebenaran pernyataan itu.

Alhamdulillah, semoga saat risau (kalau tidak mau dikatakan galau) nanti, jaminan itu yang akan menghapusnya.

Published with Blogger-droid v2.0.3

Senin, 16 Januari 2012

Rujak Dadakan

Tak sengaja, meskipun pasti sudah tertulis dalam lauhil mahfudz, pagi menjelang siang ini kami (saya dan dua orang teman kos) bertemu dengan seorang bapak yang mendorong gerobak bertuliskan Rujak Dadakan.

Dasar emank sudah lapar, dan iya, kami memang mudah lapar :p, kami pun tertarik untuk bertanya sebenarnya jenis makanan apa itu.

Setelah melihat komposisinya yaitu sayuran jenis kangkung dan taoge yang dimix dengan bumbu terasi pedas manis, tanpa ba bi bu kami langsung pesan tiga. Eh tapi sebelumnya kami tanya dulu harganya, ternyata tiga ribuan.

Sembari menunggu pesanan, saya minta izin mengambil gambar gerobaknya (maaf jika bapak penjual hanya jadi figuran). Bapak yang tidak sempat kami tanyakan namanya itu bercerita bahwa nama rujak dadakan ini diberikan karena idenya memang muncul secara mendadak.

Proses pembuatannya jauh dari kata ribet. Sayuran yang dibawa dalam keadaan mentah direbus dalam panci seperti panci bakso. Tak perlu menunggu lama sayuran pun sudah matang dan tinggal disiram bumbu andalan. Uap mengepul menambah selera. Hmmm... Jika ingin lebih rame bisa diberi topping kerupuk mi dan irisan bakwan.

Lumayan buat jajanan bagi vegetarian.


Published with Blogger-droid v2.0.3

Senin, 02 Januari 2012

Catatan Kehidupan

Entah sejak kapan saya mulai kagum dengan sosok Cak Nun, lebih tepatnya kagum dengan hasil pemikirannya, meskipun saya yakin beliau tidak akan mau dikagumi. Demi multi-level-marketing pahala, dan memang karena saya tidak tahan untuk tidak membagi-bagikannya, berikut saya cuplikkan hasil renungan beliau yang berjudul "Kesombongan":

Ini saya mohon maaf, saya banyak bercerita tentang nabi Musa padahal saya nggak kenal. tapi ya bagaimana, karena Musa ini orang yang merasa dan yakin bahwa dirinya diberi keistimewaan oleh Allah di bidang intelektual. dia sangat pandai. dia sangat cerdas, meskipun lidahnya kurang fasih sehingga dia membutuhkan temannya yang bernama Harun untuk menjadi juru bicaranya.
tapi Musa ini sangat pandai sehingga dia tidak bisa membayangkan ada orang lain yang lebih pandai dari dirinya.
maka ketika dia uzlah, naik di Gunung Tursina atau Jabal Katrina, di gunung ketiga, dia menantang Tuhan. menantang dalam tanda petik karena kesombongan intelektualnya.
Musa menantang-Nya dengan cara ingin melihat Tuhan secara nyata. artinya secara biologis, secara jasad, secara fisik. dan Tuhan langsung menunjukkan, jangankan diri Tuhan, gejala Tuhan saja, hawa-Nya Tuhan saja manusia ndak kuat.
maka ketika Tuhan menunjukkan sedikit saja gejala-Nya, gunung di seberang langsung meledak dan mencair. sampai sekarang Anda masih bisa melihat batu-batu disana berbentuk bulatan-bulatan seperti benda cair.
maka setelah itu Tuhan menyuruh Musa untuk turun dari gunung itu dan berjalan sejauh ribuan kilo untuk bertemu dengan orang yang lebih pandai dari dirinya yang bernama Khidir. Khidir sampai saat ini masih misterius karena memang tidak pernah terlihat wajahnya. waktu bertemu dengan Musa dia juga memakai kerudung seperti pendekar dari gunung sakti.
ini ceritanya sangat panjang, tapi saya kira yang dapat kita ambil adalah, kayaknya banyak kehancuran yang kita alami ini ya karena kesombongan-kesombongan seperti itu. macem-macem kesombongan itu. dan tidak semua orang mempunyai kepekaan pada waktu-waktu tertentu untuk meneliti apakah dirinya sedang sombong atau tidak karena sombong tidak harus muncul di wajah dan prilaku.
sombong itu bisa merupakan desiran dalam hati saja. sombong itu merupakan suatu struktur, suatu bangunan tertentu dalam otak kita. itu juga sudah merupakan suatu kesombongan.
kita berlindung kepada Allah mudah-mudahan kita tidak sombong, mudah-mudahan kita punya kerendahan hati sehingga makin rendah hati, makin selamat diri kita ini.

Emha Ainun Najib untuk Delta FM
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...