Entah sejak kapan saya mulai kagum dengan sosok Cak Nun, lebih tepatnya kagum dengan hasil pemikirannya, meskipun saya yakin beliau tidak akan mau dikagumi. Demi multi-level-marketing pahala, dan memang karena saya tidak tahan untuk tidak membagi-bagikannya, berikut saya cuplikkan hasil renungan beliau yang berjudul "Kesombongan":
Ini saya mohon maaf, saya banyak bercerita tentang nabi Musa padahal saya nggak kenal. tapi ya bagaimana, karena Musa ini orang yang merasa dan yakin bahwa dirinya diberi keistimewaan oleh Allah di bidang intelektual. dia sangat pandai. dia sangat cerdas, meskipun lidahnya kurang fasih sehingga dia membutuhkan temannya yang bernama Harun untuk menjadi juru bicaranya.
tapi Musa ini sangat pandai sehingga dia tidak bisa membayangkan ada orang lain yang lebih pandai dari dirinya.
maka ketika dia uzlah, naik di Gunung Tursina atau Jabal Katrina, di gunung ketiga, dia menantang Tuhan. menantang dalam tanda petik karena kesombongan intelektualnya.
Musa menantang-Nya dengan cara ingin melihat Tuhan secara nyata. artinya secara biologis, secara jasad, secara fisik. dan Tuhan langsung menunjukkan, jangankan diri Tuhan, gejala Tuhan saja, hawa-Nya Tuhan saja manusia ndak kuat.
maka ketika Tuhan menunjukkan sedikit saja gejala-Nya, gunung di seberang langsung meledak dan mencair. sampai sekarang Anda masih bisa melihat batu-batu disana berbentuk bulatan-bulatan seperti benda cair.
maka setelah itu Tuhan menyuruh Musa untuk turun dari gunung itu dan berjalan sejauh ribuan kilo untuk bertemu dengan orang yang lebih pandai dari dirinya yang bernama Khidir. Khidir sampai saat ini masih misterius karena memang tidak pernah terlihat wajahnya. waktu bertemu dengan Musa dia juga memakai kerudung seperti pendekar dari gunung sakti.
ini ceritanya sangat panjang, tapi saya kira yang dapat kita ambil adalah, kayaknya banyak kehancuran yang kita alami ini ya karena kesombongan-kesombongan seperti itu. macem-macem kesombongan itu. dan tidak semua orang mempunyai kepekaan pada waktu-waktu tertentu untuk meneliti apakah dirinya sedang sombong atau tidak karena sombong tidak harus muncul di wajah dan prilaku.
sombong itu bisa merupakan desiran dalam hati saja. sombong itu merupakan suatu struktur, suatu bangunan tertentu dalam otak kita. itu juga sudah merupakan suatu kesombongan.
kita berlindung kepada Allah mudah-mudahan kita tidak sombong, mudah-mudahan kita punya kerendahan hati sehingga makin rendah hati, makin selamat diri kita ini.
Emha Ainun Najib untuk Delta FM