Selasa, 18 September 2012

Henshin!!!


Kalimat “jangan mengatakan apa yang tidak kamu lakukan” sebenarnya menjadi beban terbesar saya menulis hal-hal semacam ini. Alhamdulillah, entah sejak kapan, perlahan tapi (agak) pasti, saya jadi semangat menghadiri majlis-majlis ilmu atau lebih kerennya disebut  pengajian. Tujuannya dari dulu yang saya tahu ya mencari ilmu, syukur-syukur bisa dipraktekkan. Eh tapi ternyata itu saja tidak cukup. Adalah ustad syams, yang mengaku nama bekennya Sammy, yang menjadi wasilah datangnya ilham bahwa tujuan datang ke majlis itu sebenarnya adalah untuk “berubah”. Rasanya memang sayang seribu sayang kalau kedatangan kita yang bisa saja dinilai sedekah ini tidak disertai dengan follow up berupa perubahan diri. Yak, disini kemauan dan doa yang punya banyak peran.
Langsung saja masuk pada materi kajian tauhid kali ini. Tidak biasanya tema yang diangkat bukan salah satu dari 99 Nama Mulia itu, tapi tema kali ini adalah zikrullah, seberapa banyak kita mengingat Allah. Aa Gym memberikan analogi produk-produk Jepang yang sangat mudah kita temui dimana saja: jam tangan, AC, televisi, motor, mobil, dan masih banyak lagi yang lainnya. Tiap kali kita membaca nama produk-produk tersebut apa yang terlintas pada pikiran kita? Yakin, banyak yang langsung ingat Jepang.
Nah, kalau tiap kali melihat produk Jepang yang masih bisa “dihitung” itu saja kita jadi ingat Negara pembuatnya yaitu Jepang, bagaimana dengan ingatan kita atas apa yang kita lihat setiap waktunya? Ciptaan siapakah tangan, kaki, wajah, rambut, semua yang ada pada diri kita, juga semua yang ada di alam semesta?
Demi menyambungkan dengan judul tulisan ini, saya coba hubungkan zikrullah dengan berubah. Jadi adakah perubahan yang terjadi setelah dapat materi kali ini? Sedikit, tapi semoga menjadi wasilah datangnya hal yang besar, yaitu doa agar dihindarkan dari lalai, lalai dalam mengingat Allah. Semoga bisa istiqomah. aamiin

PS: sempat sepulang dari kajian ini diri ini merasa sangat menyesal sedang mengkhianati-Nya. Merasa diri menjadi orang fasik. Sudah tahu diri ini salah, tapi masih saja terus melakukan yang Dia tidak suka. Ya Allah ampunilah, maafkanlah. Maka dari itu, segerakanlah.

Minggu, 22 Juli 2012

Dongeng Pemerintahan Langit

sumber gambar: mizanuladyan.wordpress.com

Cerita ini saya dengar waktu datang liqo hari Sabtu tanggal 21 Juli kemaren. Murobbiyah saya, Umi Nurlia, memilih bahasan mengenai isi Hadis Arba'in yang ke-19, yakni Hidup Bersama Allah.

Sering beliau memulai suatu materi dengan kisah. Langsung saja saya ceritakan apa yang masih terekam dalam ingatan:

Saya punya kisah, tapi tidak perlu repot dicari riwayatnya atau siapa perawinya. Ini murni kisah fiktif belaka yang ditokohi oleh seorang yang menyebut dirinya saya dan seorang malaikat.

Suatu hari, saya berkunjung ke kantor tempat dimana malaikat- malaikat bekerja. Saat melewati ruang yang pertama, saya melihat banyak sekali malaikat sedang sibuk berkutat dengan berkas bertumpuk tinggi. Saya bertanya pada malaikat, "sedang apa mereka? Kelihatannya sibuk sekali". Malaikat menjawab, "ini adalah Departemen Permohonan. Disinilah semua doa manusia dikumpulkan dan didata untuk kemudian diproses sebagaimana mestinya"."kalau begitu, banyak sekali ya manusia yang berdoa kepada Allah", batin saya.

Perjalanan dilanjutkan. Saya melewati sebuah ruangan yang tak kalah sibuk dan ramai dari ruangan sebelumnya. Saya pun bertanya,"Ruangan apa ini? Apakah sama dengan ruang tadi?". "Bukan, ini Departemen Pengabulan. Tempat dimana doa- doa yang sudah lulus proses Departemen Permohonan dikabulkan", jawab sang malaikat. "Kalau begitu, banyak sekali ya doa dan permohonan manusia yang dikabulkan."

Perjalanan dilanjutkan kembali sampai saya menemukan suatu ruang yang sangat lengang. Hanya ada seorang malaikat yang terlihat sedang menganggur. Seperti yang sudah- sudah, saya bertanya tentang ruang itu. Kali ini dengan ekspresi sedikit prihatin, malaikat menjawab," ini Departemen Terima Kasih. Tempat dimana ucapan terima kasih dari manusia dikumpulkan"." kenapa sedikit sekali yang mengucapkan terima kasih? Apakah persyaratan untuk berterima kasih segitu susahnya?" tanya manusia penasaran."syaratnya sangatlah mudah. Manusia hanya tinggal mengucapkan 'alhamdulillahirobbilalamiin'. Itu saja. Namun, sepertinya manusia sering lupa. Padahal jika mereka mengingat Allah di saat lapang, niscaya Allah akan mengingat mereka di saat mereka kesusahan."

Published with Blogger-droid v2.0.3

Kamis, 01 Maret 2012

FUTUR ku


Degradasi iman pernah dilansir sebagai tabiat asli manusia. Benarkah demikian? Sejauh yang saya tahu memang benar karena saya juga mengalaminya (bukannya berusaha untuk meninggikan diri, tapi pengalaman diri sendiri jauh lebih mudah dijadikan analogi).
Bentuk futur ada banyak sekali. Disini saya batasi pada apa yang sering terjadi pada saya.
1.       Berkurangnya amalan harian seperti sholat rawatib, kuantitas bacaan Quran menurun, dan menunda-nunda wirid atau bacaan al-ma’tsurat.
2.       Malas bangun malam atau mengurangi rokaat sholat malam.
3.       Mulai sibuk dengan hal-hal yang mubah seperti rencana menu makan, nonton film, banyak mendengarkan musik-musik barat, atau bercanda berlebihan.
4.       Terlalu larut dengan masa lalu dan susah maju.
Faktor yang menyebabkan terjadinya futur menurut saya terutama karena bisikan setan yang tak mampu lagi dibendung. Selain itu, faktor internal juga turut mendukung hal tersebut seperti:
1.       Sendiri. Istiqomah tidaknya seseorang memang baru terlihat saat dia sendiri. Terutama pada saat dia jauh dari teman-teman seperjuangan.
2.       Tidak mampu menahan nafsu dan berlebihan dalam hal yang mubah. Yang paling susah saya tahan adalah nafsu makan, apalagi makanan manis.
3.       Sugesti ‘turun tanjakan memang jauh lebih mudah daripada saat naiknya’.
4.       berada pada lingkungan yang “lemah” pada saat-saat tertentu.
5.       Kurang menjaga diri dari hal yang subhat.
Solusi yang seharusnya bisa menanggulangi futur adalah menjauhi dan meninggalkan faktor penyebabnya. Akan tetapi, kelemahan manusia yang membuatnya terasa susah. Berikut ini mungkin bisa sedikit memecahkan masalah futur meskipun saya rasa berhasil tidaknya kembali kepada tekad kita sendiri.
1.       Mengenal kendala yang mengungkung. Saat sudah berhasil, cari cara yang tepat untuk lambat laun meninggalkannya.
2.       Menghibur diri dengan hal yang mubah (tapi jangan berlebihan), seperti bercengkrama dengan keluarga, piknik dengan teman, atau refreshing dengan cara masing-masing.
3.       Banyak-banyak mengingat mati, neraka, dan surga.
4.       bagi para pemuda yang belum menikah, caranya bisa dengan selalu mengingat surat An-Nuur ayat 26: “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik”. Jika kita ingin mendapatkan pasangan yang sholih/sholihah, buatlah diri kita menjadi sholih/sholihah dulu.
5.       Lebih berhati-hati dan berusaha mencari tahu asal rezeki yang berupa pemberian dari seseorang.

Rabu, 25 Januari 2012

guarantee

Tiga hal: jodoh, rizki, dan mati. Semuanya sudah dijamin oleh Allah. Siapa yang tidak tahu? Tapi adakah tahu itu sudah naik tingkat menjadi mengerti?

Sebab kriteria mengerti disini seharusnya terlihat dari aplikasinya (meskipun dunia bicara tidak seterjal dunia langkah).

Terima kasih saya ucapkan untuk teman, saudara, sekaligus sahabat saya yang menyadarkan (atas seizin Allah) kelalaian saya.

Pernah suatu ketika dia membaca, tentunya dengan redaksi yang berbeda, status seseorang yang berbunyi ,"buat apa kita merisaukan hal yang sudah jelas-jelas dijamin oleh Allah (jodoh, rizki, mati-red), dan tidak akan mungkin akan tertukar. Yang lebih penting kita risaukan justru apakah amalan kita sudah benar sehingga Allah berkenan menerimanya, atau jangan-jangan dosa kita jauh lebih berat timbangannya. Sesuatu yang memang benar-benar layak untuk dirisaukan."

Kemudian yang saya pertanyakan adalah kalo memang sudah dijamin, berarti tanpa usaha pun akan datang pada kita donk. Namun pertanyaan saya terbantahkan dengan jawaban teman saya ini,"namanya dijamin tetap saja kita sendiri yang menentukan cara seperti apa yang kita pilih untuk menjemputnya."

Akhirnya sempurna saya terdiam dan hati saya mengamini kebenaran pernyataan itu.

Alhamdulillah, semoga saat risau (kalau tidak mau dikatakan galau) nanti, jaminan itu yang akan menghapusnya.

Published with Blogger-droid v2.0.3

Senin, 16 Januari 2012

Rujak Dadakan

Tak sengaja, meskipun pasti sudah tertulis dalam lauhil mahfudz, pagi menjelang siang ini kami (saya dan dua orang teman kos) bertemu dengan seorang bapak yang mendorong gerobak bertuliskan Rujak Dadakan.

Dasar emank sudah lapar, dan iya, kami memang mudah lapar :p, kami pun tertarik untuk bertanya sebenarnya jenis makanan apa itu.

Setelah melihat komposisinya yaitu sayuran jenis kangkung dan taoge yang dimix dengan bumbu terasi pedas manis, tanpa ba bi bu kami langsung pesan tiga. Eh tapi sebelumnya kami tanya dulu harganya, ternyata tiga ribuan.

Sembari menunggu pesanan, saya minta izin mengambil gambar gerobaknya (maaf jika bapak penjual hanya jadi figuran). Bapak yang tidak sempat kami tanyakan namanya itu bercerita bahwa nama rujak dadakan ini diberikan karena idenya memang muncul secara mendadak.

Proses pembuatannya jauh dari kata ribet. Sayuran yang dibawa dalam keadaan mentah direbus dalam panci seperti panci bakso. Tak perlu menunggu lama sayuran pun sudah matang dan tinggal disiram bumbu andalan. Uap mengepul menambah selera. Hmmm... Jika ingin lebih rame bisa diberi topping kerupuk mi dan irisan bakwan.

Lumayan buat jajanan bagi vegetarian.


Published with Blogger-droid v2.0.3

Senin, 02 Januari 2012

Catatan Kehidupan

Entah sejak kapan saya mulai kagum dengan sosok Cak Nun, lebih tepatnya kagum dengan hasil pemikirannya, meskipun saya yakin beliau tidak akan mau dikagumi. Demi multi-level-marketing pahala, dan memang karena saya tidak tahan untuk tidak membagi-bagikannya, berikut saya cuplikkan hasil renungan beliau yang berjudul "Kesombongan":

Ini saya mohon maaf, saya banyak bercerita tentang nabi Musa padahal saya nggak kenal. tapi ya bagaimana, karena Musa ini orang yang merasa dan yakin bahwa dirinya diberi keistimewaan oleh Allah di bidang intelektual. dia sangat pandai. dia sangat cerdas, meskipun lidahnya kurang fasih sehingga dia membutuhkan temannya yang bernama Harun untuk menjadi juru bicaranya.
tapi Musa ini sangat pandai sehingga dia tidak bisa membayangkan ada orang lain yang lebih pandai dari dirinya.
maka ketika dia uzlah, naik di Gunung Tursina atau Jabal Katrina, di gunung ketiga, dia menantang Tuhan. menantang dalam tanda petik karena kesombongan intelektualnya.
Musa menantang-Nya dengan cara ingin melihat Tuhan secara nyata. artinya secara biologis, secara jasad, secara fisik. dan Tuhan langsung menunjukkan, jangankan diri Tuhan, gejala Tuhan saja, hawa-Nya Tuhan saja manusia ndak kuat.
maka ketika Tuhan menunjukkan sedikit saja gejala-Nya, gunung di seberang langsung meledak dan mencair. sampai sekarang Anda masih bisa melihat batu-batu disana berbentuk bulatan-bulatan seperti benda cair.
maka setelah itu Tuhan menyuruh Musa untuk turun dari gunung itu dan berjalan sejauh ribuan kilo untuk bertemu dengan orang yang lebih pandai dari dirinya yang bernama Khidir. Khidir sampai saat ini masih misterius karena memang tidak pernah terlihat wajahnya. waktu bertemu dengan Musa dia juga memakai kerudung seperti pendekar dari gunung sakti.
ini ceritanya sangat panjang, tapi saya kira yang dapat kita ambil adalah, kayaknya banyak kehancuran yang kita alami ini ya karena kesombongan-kesombongan seperti itu. macem-macem kesombongan itu. dan tidak semua orang mempunyai kepekaan pada waktu-waktu tertentu untuk meneliti apakah dirinya sedang sombong atau tidak karena sombong tidak harus muncul di wajah dan prilaku.
sombong itu bisa merupakan desiran dalam hati saja. sombong itu merupakan suatu struktur, suatu bangunan tertentu dalam otak kita. itu juga sudah merupakan suatu kesombongan.
kita berlindung kepada Allah mudah-mudahan kita tidak sombong, mudah-mudahan kita punya kerendahan hati sehingga makin rendah hati, makin selamat diri kita ini.

Emha Ainun Najib untuk Delta FM
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...