Senin, 14 Januari 2013
Seni Menata Hati dalam Bergaul
Rabu, 02 Januari 2013
wanprestasi
Mengatasnamakan kesibukan untuk tidak melaksanakan janji mungkin suatu waktu akan terkesan menyelematkan, tapi apakah setelah itu perasaan menjadi tenang? Jika jawaban Saudara tidak, berarti kita sealiran.
Pernah suatu saat saya berjanji akan banyak menulis di blog ini. Dan kenyataannya jauh dari harapan.
Kalau setelah ini saya bertekad untuk sering menulis, apakah saya akan mencederai janji saya lagi? Sebenarnya pertanyaan semacam ini tidak perlu dan tidak seharusnya terucap. Karena frasa "setelah ini" masuk dalam dimensi waktu masa depan, jadi sebisa mungkin jangan sampai terkotori dengan keputusasaan, pesimistis, dan kecurigaan yg tidak berdasar. Bismillah, yakin bisa (mungkin dengan diiringi sedikit perbaikan niat agar diri ini terus bergerak dan hasilnya bisa bermanfaat)
Selasa, 18 September 2012
Henshin!!!
Minggu, 22 Juli 2012
Dongeng Pemerintahan Langit
![]() |
| sumber gambar: mizanuladyan.wordpress.com |
Cerita ini saya dengar waktu datang liqo hari Sabtu tanggal 21 Juli kemaren. Murobbiyah saya, Umi Nurlia, memilih bahasan mengenai isi Hadis Arba'in yang ke-19, yakni Hidup Bersama Allah.
Sering beliau memulai suatu materi dengan kisah. Langsung saja saya ceritakan apa yang masih terekam dalam ingatan:
Saya punya kisah, tapi tidak perlu repot dicari riwayatnya atau siapa perawinya. Ini murni kisah fiktif belaka yang ditokohi oleh seorang yang menyebut dirinya saya dan seorang malaikat.
Suatu hari, saya berkunjung ke kantor tempat dimana malaikat- malaikat bekerja. Saat melewati ruang yang pertama, saya melihat banyak sekali malaikat sedang sibuk berkutat dengan berkas bertumpuk tinggi. Saya bertanya pada malaikat, "sedang apa mereka? Kelihatannya sibuk sekali". Malaikat menjawab, "ini adalah Departemen Permohonan. Disinilah semua doa manusia dikumpulkan dan didata untuk kemudian diproses sebagaimana mestinya"."kalau begitu, banyak sekali ya manusia yang berdoa kepada Allah", batin saya.
Perjalanan dilanjutkan. Saya melewati sebuah ruangan yang tak kalah sibuk dan ramai dari ruangan sebelumnya. Saya pun bertanya,"Ruangan apa ini? Apakah sama dengan ruang tadi?". "Bukan, ini Departemen Pengabulan. Tempat dimana doa- doa yang sudah lulus proses Departemen Permohonan dikabulkan", jawab sang malaikat. "Kalau begitu, banyak sekali ya doa dan permohonan manusia yang dikabulkan."
Perjalanan dilanjutkan kembali sampai saya menemukan suatu ruang yang sangat lengang. Hanya ada seorang malaikat yang terlihat sedang menganggur. Seperti yang sudah- sudah, saya bertanya tentang ruang itu. Kali ini dengan ekspresi sedikit prihatin, malaikat menjawab," ini Departemen Terima Kasih. Tempat dimana ucapan terima kasih dari manusia dikumpulkan"." kenapa sedikit sekali yang mengucapkan terima kasih? Apakah persyaratan untuk berterima kasih segitu susahnya?" tanya manusia penasaran."syaratnya sangatlah mudah. Manusia hanya tinggal mengucapkan 'alhamdulillahirobbilalamiin'. Itu saja. Namun, sepertinya manusia sering lupa. Padahal jika mereka mengingat Allah di saat lapang, niscaya Allah akan mengingat mereka di saat mereka kesusahan."
Kamis, 01 Maret 2012
FUTUR ku
Rabu, 25 Januari 2012
guarantee
Sebab kriteria mengerti disini seharusnya terlihat dari aplikasinya (meskipun dunia bicara tidak seterjal dunia langkah).
Terima kasih saya ucapkan untuk teman, saudara, sekaligus sahabat saya yang menyadarkan (atas seizin Allah) kelalaian saya.
Pernah suatu ketika dia membaca, tentunya dengan redaksi yang berbeda, status seseorang yang berbunyi ,"buat apa kita merisaukan hal yang sudah jelas-jelas dijamin oleh Allah (jodoh, rizki, mati-red), dan tidak akan mungkin akan tertukar. Yang lebih penting kita risaukan justru apakah amalan kita sudah benar sehingga Allah berkenan menerimanya, atau jangan-jangan dosa kita jauh lebih berat timbangannya. Sesuatu yang memang benar-benar layak untuk dirisaukan."
Kemudian yang saya pertanyakan adalah kalo memang sudah dijamin, berarti tanpa usaha pun akan datang pada kita donk. Namun pertanyaan saya terbantahkan dengan jawaban teman saya ini,"namanya dijamin tetap saja kita sendiri yang menentukan cara seperti apa yang kita pilih untuk menjemputnya."
Akhirnya sempurna saya terdiam dan hati saya mengamini kebenaran pernyataan itu.
Alhamdulillah, semoga saat risau (kalau tidak mau dikatakan galau) nanti, jaminan itu yang akan menghapusnya.
Senin, 16 Januari 2012
Rujak Dadakan
Tak sengaja, meskipun pasti sudah tertulis dalam lauhil mahfudz, pagi menjelang siang ini kami (saya dan dua orang teman kos) bertemu dengan seorang bapak yang mendorong gerobak bertuliskan Rujak Dadakan.
Dasar emank sudah lapar, dan iya, kami memang mudah lapar :p, kami pun tertarik untuk bertanya sebenarnya jenis makanan apa itu.
Setelah melihat komposisinya yaitu sayuran jenis kangkung dan taoge yang dimix dengan bumbu terasi pedas manis, tanpa ba bi bu kami langsung pesan tiga. Eh tapi sebelumnya kami tanya dulu harganya, ternyata tiga ribuan.
Sembari menunggu pesanan, saya minta izin mengambil gambar gerobaknya (maaf jika bapak penjual hanya jadi figuran). Bapak yang tidak sempat kami tanyakan namanya itu bercerita bahwa nama rujak dadakan ini diberikan karena idenya memang muncul secara mendadak.
Proses pembuatannya jauh dari kata ribet. Sayuran yang dibawa dalam keadaan mentah direbus dalam panci seperti panci bakso. Tak perlu menunggu lama sayuran pun sudah matang dan tinggal disiram bumbu andalan. Uap mengepul menambah selera. Hmmm... Jika ingin lebih rame bisa diberi topping kerupuk mi dan irisan bakwan.
Lumayan buat jajanan bagi vegetarian.
